Headline
Polemik Pergantian Nama BIL Menjadi BIZAM Semakin Mengkhawatirkan
HL. Putria : Hindari perpecahan dan potensi pertumpahan darah, yang pro kontra sebaiknya duduk bersama cari solusi Terbaik
NURANIRAKYATNEWS LOMBOK TENGAH-NTB. Pergantian nama Bandara Internasional Lombok, BIL menjadi Bandara Internasional Zaenudin Abdul Mazid BIZAM Oleh Gubernur NTB hingga kini masih
menuai polemik berkepanjangan. Hal ini terlihat dari perlawanan keras yang dilakukan masyarakat Lombok Tengah di koordinir oleh beberapa Lembaga maupun organisasi Masyarakat yang tergabung dalam Aliansi bernama GERAM NTB (Gerakan Rakyat Menolak Pergantian nama Bandara) dengan jargon mereka BIL HARGA MATI !.
Hal tersebut menurut salah seorang budayawan / tokoh masyarakat Lombok Tengah HL. Putria S.Pd M.Pd asal Desa Ketare atau di Lingkar Bandara yang lebih dikenal dengan nama Datu Siledendeng ini mengatakan," Dirinya sebagai bagian dari masyarakat Lingkar Bandara yang dituakan, saya tidak ingin masyarakat kami di lingkar Bandara ini menjadi kisruh, mereka saling berbeda pandangan ada pro ada kontra jika tidak diselesaikan dengan baik tidak tertutup kemungkinan akan terjadi pertumpahan darah," tegasnya. Oleh karena itu pihak yang ingin namanya tetap menjadi BIL maupun yang ingin merubah namanya menjadi BIZAM ataupun nama lain, mari kita duduk bersama cari solusi terbaik seperti ajaran leluhur kita, Dawk ngiring Sami, perapet sile pesopok ambu madu arep, saya yakin haqulyakin akan ada Jalan keluar yang terbaik jika kita duduk bersama,” kata HL. Putria.
Diketahui mereka yang tetap mempertahankan nama BIL dulunya pada saat pemberian nama itu melalui musyawarah duduk bersama para tokoh, saat itu ada 11 nama usulan
Salah satunya Bandara Dongak Langit, Datu Tuan, Datu Pejanggik, Selaparang, Raden Resnem, Raden Meles ada nama Datu Siledendeng yang saya usulkan dan lain sebagainya, tetapi pada saat itu semua nama nama usulan tersebut satupun tidak ada yang disetujui karena nama yang akan disematkan adalah hrus nama yang benar benar netral agar tidak timbul rasa ego sektoral yang berpotensi membawa perpecahan," kata Putria
Dicontohkan mantan kadis Pariwisata Lombok Tengah ini, misalnya Kabupaten Lombok Utara tidak merasa terpinggirkan, begitu juga Lombok Barat, Lombok Timur dan juga Lombok Tengah sebagai lokasi utama berdirinya Bandara dan ternyata pilihan kepada nama BIL yang merupakan refresentasi nama yang paling netral diyakini nama ini akan membawa Lombok agar terkenal ke kancah Dunia sehingga disepakatilah namanya menjadi BIL. Atau Bandara Internasional Lombok.
Kemudian pernah diubah namanya menjadi LIA atau Lombok International Airport masyarakat menjadi ribut saat itu tapi setelah dijelaskan artinya LIA itu adalah singkatan bahasa Inggris dari nama BIL lalu emosi masyarakat mereda setelah tahu artinya.
Namun sekarang yang dipersoalkan tiba tiba ada SK Menhub : Nomor 1421 tahun 2018 yang mau merubah nama BIL menjadi BIZAM masyarakat menjadi ribut. Setelah ini berpolemik. Dikatakan Putria saya pernah mendengar dari yang pro BIZAM mereka mengatakan kalau nama BIZAM Lebih pantas karena itu untuk menghargai nama Pahlawan Nasional dan diakui juga nama Maulanasyekh TGKH Zaenudin Abdul Mazid adalah tokoh kita di Lombok Tengah, namun tolong itu harus disampaikan atau dijelaskan apa urgensinya sehingga harus menjadi BIZAM, says takin kita semua paham di daerah atau Propinsi lain meskipun mereka memiliki Pahlawan Nasional
Lantas tidak serta merta apalagi dipaksakan harus menamakan Bandara mereka dengan nama Pahlawan nasional asal daerahnya sendiri, misalnya di Sumatera Barat nama Bandara Internasionalnya ya Bandara Internasional Minangkabau di Kota Padang disingkat BIM walaupun ada nama Pahlawan Nasional Tuanku Imam Bonjol, begitu juga di Sumatera Utara ada Bandara Kualanamu.
Kemudian Bandara Internasional Silangit di Tapanuli Sumatera Utara mereka punya pahlawan Nasional Sisinga Mangaraja tapi lantas tidak menamakannya menjadi Bandara Sisinga Mangaraja, kemudian di Samarinda Kalimantan Timur Bandara Internasionalnya bernama Sepinggan dan masih banyak lagi contoh lainnya,” kata Putria.
Oleh karena itu mohon kepada saudara saudaraku, guru guru kami dan tokoh tokoh kami dipihak yang mau mengganti namanya menjadi BIZAM, mari kita duduk bersama jelaskan kepada kami apa urgensi dan dampak positifnya bagi masyarakat kalau ini membawa dampak positif terutama melahirkan kedamaian, keamanan serta bisa membawa kondusifitas daerah NTB pada umumnya terutama di Kabupaten Lombok Tengah khususnya, saya juga tidak akan bisa bertahan dan saya harus mendukungnya, namun jika terjadi sebaliknya kita harus mencari solusi demi keamanan dan kedamaian masyarakat,” kata bakal Calon Bupati Lombok Tengah ini
Dikatakannya, saya teringat ajaran leluhur kami didalam takepan atau tulisan lontar seorang tokoh seorang Pahlawan itu harus belajar dari filosufi, sebatang pohon yang mencari nutrisi makanan kedalam tanah melalui akarnya sampai puluhan bahkan ratusan meter, itulah yang akan menghasilkan daun bunga dan buah tetapi akar daun bunga dan buah itu bukan untuk pohon itu sendiri bahkan pohon tidak tahu dan tidak pernah mau tahu siapa yang akan menikmati dan memanfaatkan akar daun bunga dan buah yang dihasilkan, itulah sifat seorang tokoh atau pahlawan Sasak yang harus kita ajarkan kepada anak cucu kita sehingga mereka tidak bertikai dan bertengkar, ini harapan saya. Semoga masyarakat Lombok NTB khususnya masyarakat Kabupaten Lombok Tengah bisa merasakan keamanan dan kedamaian dan tidak ada perselisihan,” kata HL. Putria yang bergelar Datu Siledendeng tersebut.(NRNews29)
NURANIRAKYATNEWS LOMBOK TENGAH-NTB. Pergantian nama Bandara Internasional Lombok, BIL menjadi Bandara Internasional Zaenudin Abdul Mazid BIZAM Oleh Gubernur NTB hingga kini masih
![]() |
| HL. Putria S.Pd M.Pd |
Hal tersebut menurut salah seorang budayawan / tokoh masyarakat Lombok Tengah HL. Putria S.Pd M.Pd asal Desa Ketare atau di Lingkar Bandara yang lebih dikenal dengan nama Datu Siledendeng ini mengatakan," Dirinya sebagai bagian dari masyarakat Lingkar Bandara yang dituakan, saya tidak ingin masyarakat kami di lingkar Bandara ini menjadi kisruh, mereka saling berbeda pandangan ada pro ada kontra jika tidak diselesaikan dengan baik tidak tertutup kemungkinan akan terjadi pertumpahan darah," tegasnya. Oleh karena itu pihak yang ingin namanya tetap menjadi BIL maupun yang ingin merubah namanya menjadi BIZAM ataupun nama lain, mari kita duduk bersama cari solusi terbaik seperti ajaran leluhur kita, Dawk ngiring Sami, perapet sile pesopok ambu madu arep, saya yakin haqulyakin akan ada Jalan keluar yang terbaik jika kita duduk bersama,” kata HL. Putria.
Diketahui mereka yang tetap mempertahankan nama BIL dulunya pada saat pemberian nama itu melalui musyawarah duduk bersama para tokoh, saat itu ada 11 nama usulan
Salah satunya Bandara Dongak Langit, Datu Tuan, Datu Pejanggik, Selaparang, Raden Resnem, Raden Meles ada nama Datu Siledendeng yang saya usulkan dan lain sebagainya, tetapi pada saat itu semua nama nama usulan tersebut satupun tidak ada yang disetujui karena nama yang akan disematkan adalah hrus nama yang benar benar netral agar tidak timbul rasa ego sektoral yang berpotensi membawa perpecahan," kata Putria
Dicontohkan mantan kadis Pariwisata Lombok Tengah ini, misalnya Kabupaten Lombok Utara tidak merasa terpinggirkan, begitu juga Lombok Barat, Lombok Timur dan juga Lombok Tengah sebagai lokasi utama berdirinya Bandara dan ternyata pilihan kepada nama BIL yang merupakan refresentasi nama yang paling netral diyakini nama ini akan membawa Lombok agar terkenal ke kancah Dunia sehingga disepakatilah namanya menjadi BIL. Atau Bandara Internasional Lombok.
Kemudian pernah diubah namanya menjadi LIA atau Lombok International Airport masyarakat menjadi ribut saat itu tapi setelah dijelaskan artinya LIA itu adalah singkatan bahasa Inggris dari nama BIL lalu emosi masyarakat mereda setelah tahu artinya.
Namun sekarang yang dipersoalkan tiba tiba ada SK Menhub : Nomor 1421 tahun 2018 yang mau merubah nama BIL menjadi BIZAM masyarakat menjadi ribut. Setelah ini berpolemik. Dikatakan Putria saya pernah mendengar dari yang pro BIZAM mereka mengatakan kalau nama BIZAM Lebih pantas karena itu untuk menghargai nama Pahlawan Nasional dan diakui juga nama Maulanasyekh TGKH Zaenudin Abdul Mazid adalah tokoh kita di Lombok Tengah, namun tolong itu harus disampaikan atau dijelaskan apa urgensinya sehingga harus menjadi BIZAM, says takin kita semua paham di daerah atau Propinsi lain meskipun mereka memiliki Pahlawan Nasional
Lantas tidak serta merta apalagi dipaksakan harus menamakan Bandara mereka dengan nama Pahlawan nasional asal daerahnya sendiri, misalnya di Sumatera Barat nama Bandara Internasionalnya ya Bandara Internasional Minangkabau di Kota Padang disingkat BIM walaupun ada nama Pahlawan Nasional Tuanku Imam Bonjol, begitu juga di Sumatera Utara ada Bandara Kualanamu.
Kemudian Bandara Internasional Silangit di Tapanuli Sumatera Utara mereka punya pahlawan Nasional Sisinga Mangaraja tapi lantas tidak menamakannya menjadi Bandara Sisinga Mangaraja, kemudian di Samarinda Kalimantan Timur Bandara Internasionalnya bernama Sepinggan dan masih banyak lagi contoh lainnya,” kata Putria.
Oleh karena itu mohon kepada saudara saudaraku, guru guru kami dan tokoh tokoh kami dipihak yang mau mengganti namanya menjadi BIZAM, mari kita duduk bersama jelaskan kepada kami apa urgensi dan dampak positifnya bagi masyarakat kalau ini membawa dampak positif terutama melahirkan kedamaian, keamanan serta bisa membawa kondusifitas daerah NTB pada umumnya terutama di Kabupaten Lombok Tengah khususnya, saya juga tidak akan bisa bertahan dan saya harus mendukungnya, namun jika terjadi sebaliknya kita harus mencari solusi demi keamanan dan kedamaian masyarakat,” kata bakal Calon Bupati Lombok Tengah ini
Dikatakannya, saya teringat ajaran leluhur kami didalam takepan atau tulisan lontar seorang tokoh seorang Pahlawan itu harus belajar dari filosufi, sebatang pohon yang mencari nutrisi makanan kedalam tanah melalui akarnya sampai puluhan bahkan ratusan meter, itulah yang akan menghasilkan daun bunga dan buah tetapi akar daun bunga dan buah itu bukan untuk pohon itu sendiri bahkan pohon tidak tahu dan tidak pernah mau tahu siapa yang akan menikmati dan memanfaatkan akar daun bunga dan buah yang dihasilkan, itulah sifat seorang tokoh atau pahlawan Sasak yang harus kita ajarkan kepada anak cucu kita sehingga mereka tidak bertikai dan bertengkar, ini harapan saya. Semoga masyarakat Lombok NTB khususnya masyarakat Kabupaten Lombok Tengah bisa merasakan keamanan dan kedamaian dan tidak ada perselisihan,” kata HL. Putria yang bergelar Datu Siledendeng tersebut.(NRNews29)

Posting Komentar