24 C
id

Prioritaskan Petani, Ini Kata H. Dwi Sugianto Bakal Calon Bupati Lombok Tengah

Photo : IR.H. Dwi Sugianto MM bersama perwakilan kelompok tani perwakilan 12 Kecamatan 
NURANIRAKYAT NEWS LOMBOK TENGAH-NTB. Nama Ir H. Dwi Sugianto MM adalah nama yang tidak asing lagi di tengah masyarakat Kabupaten Lombok Tengah  bahkan Propinsi Nusa Tenggara Barat. Bagaimana tidak ? beliau adalah mantan pejabat atau Kepala Dinas PU Lombok Tengah dan juga Kepala Dinas PU Propinsi NTB di era Gubernur TGB.
Saat ini H. Dwi Sugianto telah memproklamirkan diri menjadi bakal calon Bupati Lombok Tengah yang ikut berkompetisi dan disebut sebut berpeluang besar untuk maju dan memenangkan pertarungan besar pada Pilkada Lombok Tengah mendatang. Komitmen dirinya maju menjadi Calon Bupati adalah berawal dari niat tulus untuk bekerja, membangun dan memajukan Kabupaten Lombok Tengah agar bisa sejajar dan bahkan melebihi Kabupaten Kabupaten lain di Indonesia.

Hal tersebut diungkapkannya pada saat mengikuti pertemuan silaturahmi dengan perwakilan para kelompok tani yang tersebar di 12 Kecamatan se Lombok
Tengah, yang diadakannnya tidak jauh dari Kantor Bupati baru, tepatnya di Kelurahan Renteng Kecamatan Praya baru baru ini. Dia mengatakan,” Jika memperhatikan situasi dan kondisi Lombok Tengah kedepan, diakui saat ini Lombok Tengah sudah luar biasa menjadi idola Indonesia dan bahkan Idola Dunia.

Itu harus menjadi kebanggaan dan  komitmen kita bersama, jangan kita lupakan masyarakat kita hampir satu juta lebih mereka kebanyakan bekerja disektor pertanian, jadi disektor pertanian inilah dominasi masyarakat Lombok Tengah menyandarkan kehidupannya untuk peningkatan ekonomi dan kesejahteraan mereka, termasuk saya juga sebagai salah satu pensiunan ASN juga sekarang adalah berprofesi dan bekerja sebagai petani. Kami melihat dan langsung merasakan bagaimana kehidupan petani saat ini, mereka perlu ada perubahan, pembenahan dari hulu sampai hilir, tentang bagaimana usaha pertanian, baik itu sektor tanah, pangan, perikanan maupun peternakan dan sub sektor perkebunan," kata mantan Kadis PU Propinsi NTB ini.

Beliau juga mengatakan," kita bisa melihat dari hulu sampai hilir bagaimana masyarakat ini perlu pembinaan, diberikan ketrampilan, pelatihan tekhnologi tepat
guna mendapatkan produksi tinggi dan akhirnya kita mendapatkan margin nilai jual petani atau nilai hargà petani kita masih berambang pada nilai atau margin angkanya sekitar 100,3 sedangkan kalau kita lihat petani itu nilainya sampai 100 maka habis tanam lalu dipakai untuk pemenuhan kebutuhan langsung habis.

Jadi tidak ada tersisa atau atau digunakan untuk pemenuhan kebutuhan kebutuhan lain, bahkan kalau tidak teliti akan menjadi minus, nah sedangkan di Lombok Tengah ini saya lihat baru pada angka 100,3
Sedangkan yang normal yang harus dicapai petani paling tidak petani harus memiliki margin angka pada hitungan 110 sampai 120 baru bisa untuk menyimpan kebutuhan lainnya bukan berarti sama dengan untuk kebutuhan kita makan setelah itu cuci piring, dan tidal selamanya akan begitu,'terangnya.

Kemudian persoalan persoalan yang mendasar adalah mulai dari hulu ke hilir mulai dari sisi pola tanam, ketersediaan air, tekhnologi dan pemanfaatan pemanfaatan  tekhnologi, baik itu pupuk, bibit dan tenaga kerja mahal sekali sulit dijangkau oleh masyarakat oleh karena itu harus  didukung dengan tekhnologi tepat guna yang
sederhana. Kemudian pasca, penghasilan ini banyak kehilangan terutama dari sektor pertanian, misalnya tenaga kurang, alat tidak tepat guna maka terjadilah kehilangan kehilangan berapa banyak yang harus dilihat, 5 sampai dengan10 persen adalah kehilangan produk.

Kemudian dari sisi lain adalah  pengendalian harga, pengendalian harga ini memang sering terjadi selalu menjadi persoalan, setiap panen harga hancur, tidak terjangkau, sedangkan beli beras mahal, oleh karena itu nantinya perlu ada kebijakan kebijakan. Oleh karena itu nantinya siapapun yang akan terpilih jadi Kepala Daerah periode mendatang. kalaupun kami diberikan amanah dari Allah swt atas dukungan teman teman, ini jelas kita harus mempunyai rekayasa dan mempunyai kebijakan kebijakan yang jelas berpihak kepada bagaimana petani petani kita ini supaya bisa untuk mencapai yang cukup," kata Mantan Pejabat pusat atau Direktur Pengairan kementrian PU ini.

Terkait mengenai bibit dengan tekhnologinya
Secara tekhnis sudah jelas sebetulnya  masyarakat sudah mampu membuat bibit sendiri asal terbina dengan baik, kita tidak perlu membeli bibit dengan konsumsi yang terlalu mahal dan yang dimungkinkan "kemurniannya masih belum diyakini karena sudah menjadi bisnis, kemudian yang perlu diperhatikan harganya terlalu mahal, belum  kita kami lakukan ketersediaan pupuk ketersediaan varietas unggul dan lain sebagainya.

Terkait dengan antisipasi surplus gabah petani jika dilakukan pada panen raya  kemudian berlebih, sebetulnya mekanisme untuk pembelian produk ini sebenarnya sudah ada wadah atau bulog dan pihak lainnya untuk menampung
Tapi yang perlu diketahui kalau terjadi banjir besar atau panen raya maka perlu ada keseimbangan atau kebijakan dari pemerintah atau siapapun yang di masing masing kelompok yang nantinya akan dikelola koperasi atau pihak lainnya atau Second Dolog yang berperan membantu Dolog sebagai penampung sementara sebelum semuanya bisa tersalurkan dengan baik," tutup Ir.H.Dwi Sugianto. (NRNews29)











Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

1 komentar

Tes Iklan
Tes Iklan

Ads Single Post 4