Lombok Tengah
NURANIRAKYAT NEWS LOMBOK TENGAH-NTB. Pemda Lombok Tengah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menggelar rapat mengenai kesiapan Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama menyambut Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tatap muka. Rapat dihadiri Plt. Kepala BPBD Loteng, Murdi, Ap, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Provinsi NTB, H. Aidy Furqan, Kepala Dinas Pendidikan Loteng, H. Sumum, Kepala Kemenag Loteng, H. Jalalussayuthi, beberapa OPD, dan jajaran Forkopimda. Acara berlangsung di Lantai 5 Kantor Bupati Loteng, Selasa (14/07) sebelumnya.
Dihadapan Kepala Dinas Dikbud, Plt. Kepala BPBD Loteng, Murdi memaparkan perkembangan penyebaran dan penanganan Covid-19. Artinya, kondisi Loteng saat ini sedang memulai fase melandai. Meski begitu, Tim Satgas Penanganan Covid-19 Loteng tidak henti-hentinya berupaya menekan penyebaran virus tersebut. "Mulai dari tahap sosialisasi, simulasi, edukasi, hingga fasilitasi terus kita lakukan.
Saat ini, kata Murdi yang juga Sekretaris Satgas Covid-19 Loteng itu, statistik Covid-19 untuk jumlah PPTG sebanyak 9.114, OTG 1.978, ODP 606, PDP 77, Positif 121, dan terkonfirmasi positif sebanyak 4 orang meninggal dunia. "Jumlah tersebut terdiri dari 55 Desa/kelurahan se Kabupaten Loteng. Sementara Desa/kelurahan yang tidak terindikasi sebanyak 44. Artinya, sebanyak 61,8 persen dari jumlah Desa/kelurahan yang sudah terpapar.
Disampaikannya, BPBD Loteng sejauh ini masih memiliki persiapan Alat Pelindung Diri (APD) berupa masker sebanyak 2.900 box, handsaniter 140 botol, dan cairan disinfektan 60 liter. "Itu sumber daya protokol kesehatan yang masih kami punya. Kami mengaku masih kekurangan cairan disinfektan.
Terkait dengan KBM tatap muka, pihaknya menyarankan agar mendesain model pembelajaran tatap muka. Karena tidak bisa dibendung secara administratif kewilayahan. Perlu ada fase seperti sosialisasi, simulasi, edukasi dan seterusnya. "Jangan sampai ada klaster sekolah maupun madrasah nantinya. Kami khawatir jika ada peserta didik yang rentan tertular Covid-19 seperti gangguan sesak nafas menjadi korban. Apalagi, persentase tinggi kematian dari Covid-19 ini adalah yang memiliki riwayat penyakit ginjal.
Murdi juga memaparkan, meski dalam kondisi diserang wabah Covid-19, peserta didik masih bisa aktif belajar dari rumah. Dikarenakan banyak media yang dapat dimanfaatkan peserta didik untuk belajar. "Intinya perlu simulasi dulu untuk membiasakan peserta didik. Begitu KBM tatap muka sudah dibolehkan, pihak sekolah dan peserta didik sudah siap dan terbiasa untuk menerapkan protokol kesehatan demi menghindari penyebaran wabah ini," jelas Murdi.
Sementara, Kepala Dinas Dikbud NTB, H Aidy Furqan menjelaskan, mulai tanggal 3 Juli sampai 18 Juli dilakukan masa uji coba dengan skema 1 ruang harus diisi maksimal 14 peserta didik. Kemudian, jarak duduk harus 1,5 meter. "Ketika melangsungkan KBM tatap muka, maksimal 4 jam dalam sehari. Dikarenakan peserta didik harus mengenal dulu kondisi sekolah,.agar new adaptasi dengan baik," jelasnya.(EnalADV/.Kerjasama Humas)
Dikbud Prop. NTB Dijelaskan Perkembangan Covid-19 BPBD Oleh BPBD
![]() |
| Plt Kepala BPBD Loteng bersama Kadis Dikbud Propinsi NTB, Kadisdik Loteng dan Kakanmenag Loteng |
Dihadapan Kepala Dinas Dikbud, Plt. Kepala BPBD Loteng, Murdi memaparkan perkembangan penyebaran dan penanganan Covid-19. Artinya, kondisi Loteng saat ini sedang memulai fase melandai. Meski begitu, Tim Satgas Penanganan Covid-19 Loteng tidak henti-hentinya berupaya menekan penyebaran virus tersebut. "Mulai dari tahap sosialisasi, simulasi, edukasi, hingga fasilitasi terus kita lakukan.
Saat ini, kata Murdi yang juga Sekretaris Satgas Covid-19 Loteng itu, statistik Covid-19 untuk jumlah PPTG sebanyak 9.114, OTG 1.978, ODP 606, PDP 77, Positif 121, dan terkonfirmasi positif sebanyak 4 orang meninggal dunia. "Jumlah tersebut terdiri dari 55 Desa/kelurahan se Kabupaten Loteng. Sementara Desa/kelurahan yang tidak terindikasi sebanyak 44. Artinya, sebanyak 61,8 persen dari jumlah Desa/kelurahan yang sudah terpapar.
Disampaikannya, BPBD Loteng sejauh ini masih memiliki persiapan Alat Pelindung Diri (APD) berupa masker sebanyak 2.900 box, handsaniter 140 botol, dan cairan disinfektan 60 liter. "Itu sumber daya protokol kesehatan yang masih kami punya. Kami mengaku masih kekurangan cairan disinfektan.
Terkait dengan KBM tatap muka, pihaknya menyarankan agar mendesain model pembelajaran tatap muka. Karena tidak bisa dibendung secara administratif kewilayahan. Perlu ada fase seperti sosialisasi, simulasi, edukasi dan seterusnya. "Jangan sampai ada klaster sekolah maupun madrasah nantinya. Kami khawatir jika ada peserta didik yang rentan tertular Covid-19 seperti gangguan sesak nafas menjadi korban. Apalagi, persentase tinggi kematian dari Covid-19 ini adalah yang memiliki riwayat penyakit ginjal.
Murdi juga memaparkan, meski dalam kondisi diserang wabah Covid-19, peserta didik masih bisa aktif belajar dari rumah. Dikarenakan banyak media yang dapat dimanfaatkan peserta didik untuk belajar. "Intinya perlu simulasi dulu untuk membiasakan peserta didik. Begitu KBM tatap muka sudah dibolehkan, pihak sekolah dan peserta didik sudah siap dan terbiasa untuk menerapkan protokol kesehatan demi menghindari penyebaran wabah ini," jelas Murdi.
Sementara, Kepala Dinas Dikbud NTB, H Aidy Furqan menjelaskan, mulai tanggal 3 Juli sampai 18 Juli dilakukan masa uji coba dengan skema 1 ruang harus diisi maksimal 14 peserta didik. Kemudian, jarak duduk harus 1,5 meter. "Ketika melangsungkan KBM tatap muka, maksimal 4 jam dalam sehari. Dikarenakan peserta didik harus mengenal dulu kondisi sekolah,.agar new adaptasi dengan baik," jelasnya.(EnalADV/.Kerjasama Humas)

Posting Komentar