24 C
id

Diskusi Publik ALARM NTB Membedah Arah Dan Realisasi Pembangunan Lombok Tengah


Para Narasumber : H.Nursiah. S.Sos M.Si. ( Birokrat, Sekda Lombok Tengah, peci hitam) Doktor Asrin
 ( tokoh Akademisi /Dosen Unram, samping kanan ) dan L. Prima Wira Putra ( Tokoh Budayawan, baju merah )

HNursiah S. Sos M.Si :  Fokus Utama Kita Prioritaskan Kebijakan Daerah Yang Disuport Propinsi dan Pusat

NURANI RAKYAT NEWS. LOMBOK TENGAH. Lama tidak terdengar kiprahnya kini LSM ALARM (Aliansi Rakyat Menggugat) NTB yang di ketuai Lalu Hizzy dan kawan kawan kembali hadir dengan semangat baru yang lebih dinamis, enerjik dan dominasi kritis sebagai LSM yang selalu menyuarakan aspirasi dan kepentingan masyarakat tetap diutamakan. LSM yang berkolaborasi dengan tokoh tokoh LSM,  ini sebut saja diantaranya ada Yuli Harhari, Bustomi Taefuri, Hasan Masat, L. Tajir Syahroni, Ihsan Ramdani, Baiq Arya Ningrum dan banyak lagi kawan kawan lainnya, ternyata mereka masih garang dan selalu kritis menyuarakan aspirasi rakyat meskipun usia sudah tidak muda lagi. Kali ini mereka kembali hadir bersatu pererat silaturahmi dan rasa persaudaraan mereka untuk bersama sama mengkritisi, memberikan sumbangan pemikiran bagi para pemangku kebijakan di Pemerintahan Kabupaten Lombok Tengah disatu sisi dinilai masih kurang pro rakyat.

Dalam acara diskusi yang diadakan di DMAX Hotel, Senin (17/7/2019) ALARM NTB mengundang narasumber yakni Sekda Loteng HM. Nursiah S.Sos M. Si. Kalangan akademisi Doktor Asrin (Dosen Unram) dan Tokoh Budayawan L. Prima Wira Putra. Pada rellease yang dibuatnya menurut Lalu Hizy,” mengatakan,”Adapun tema yang diusung adalah memajukan pariwisata untuk penguatan nilai tambah produk lokal dan peningkatan kesejahteraan dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi berkualitas dan penurunan kemiskinan. Berikutnya tema pembangunan tersebut dijabarkan dalam 5 skala prioritas, yakni penghayatan nilai nilai agama dan kearifan lokal, peningkatan akses dan mutu pelayanan pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan sosial, penguatan ekònomi dan struktur sumber daya alam, peningkatan kualitas infrastruktur Kabupaten dan penataan wilayah kota Praya dan peningkatan kapasitas Pemerintah daerah dan pelayanan publik,”terang Hizzy.

Dalam kesempatan tersebut menurut H. Nursiah,”Pada saat ini yang kita prioritaskan adalah kebijakan daerah yang disuport oleh Pemerintah Propinsi dan Pusat.  Berbicara ekonomi sesuai dengan tema kita saat ini, peningkatan perekonomian kita luar biasa dalam tumbuh kembangnya, ini akibat dari pembangunan infrastruktur yang sudah dibuat oleh Pemda. Kemudian adanya BIL sebagai pemicu pertumbuhan ekonomi, begitu juga dengan keberadaan KEK Mandalika yang sangat luarbiasa,”puji Nursiah. Terkait dengan perekonomian Kabupaten Lombok Tengah diakui yang mendominasi saat ini masih pada sektor pertanian, namun tidak dipungkiri pada sektor perdagangan sudah mulai menggeliat seiring dengan perkembangan. Dikatakan Sekda,”Lombok Tengah sekarang kalau berbicara dalam konteks produk produk UKM, yang kita punya sekarang adalah 7 produk unggulan selain itu adalah masih dalam kategori menuju unggulan. Adanya unit yang menghasilkan produk barang di Loteng saat ini sekitar 35 ribu, yang menyerap tenaga kerja sekitar 35.888 dengan nilai investasi 35 milyar lebih, artinya dengan tumbuhnya masyarakat yang menghasilkan barang dan jasa itu juga merupakan faktor pendukung ekonomi,”kata Sekda.

Dalam pemetaan perekonomian dengan adanya karakter Utara Tengah dan Selatan memiliki nilai tersendiri dalam upaya mendukung dan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat, terlebih disektor pariwisata untuk mendapatkan PAD. Namun terlepas dari hal itu percuma kita punya produk, kalau kita belum punya koneksi untuk mengakses pasar secara nasional, internasional bahkan didepan mata, misalnya seperti pasar KEK Mandalika, dalam hal ini penguatan produk kita  yang menjadi kebutuhan perhotelan dan kebutuhan pariwisata dominan adalah kebutuhan Holtikultura disektor pertanian berikut peternakan dan perikanan. Kaitan dalam hal ini kita sudah membuat master plan sentra produk holtikuktura oleh Dinas pertanian guna menghasikan kebutuhan barang berupa padi, sayur, kedelai maupun buah, ini nantinya yang akan banyak  diperlukan untuk menopang pasar KEK Mandalika. Nah itulah skala prioritas arah APBD kita guna mendukung usaha masyarakat.
Dalam kesempatan yang sama menurut Doktor Asrin,”Melaksanakan pembangunan selalu ada resiko positif dan negatif. Kebijakan Lombok Tengah untuk pariwisata misalnya dari sisi kultural dan sisi lainnya juga perlu dikaji dan dianalisa. Diketahui penyumbang terbesar PAD untuk Lombok Tengah berasal dari Pertanian dan mau tidak mau kita harus akui bahwa kita semua adalah rata rata anak petani,”kata Doktor Asrin. Untuk mencapai hasil yang diinginkan, harus ada lompatan misalnya dari pertanian ke pariwisata itu kita harus memiliki Plann yang jelas. Dan skenarionya untuk 5 tahun atau 50 tahun harus benar terencana dan harus ada tahapan. Ketika nanti pariwisata itu sudah booming, infrastruktur sudah bagus, KEK Mandalika sudah mulai beroperasional, apakah pertanian akan terbengkalai karena untuk sementara saat ini mau tidak mau pangan NTB dipasok oleh Lombok Tengah. Diketahui pariwisata Lombok Tengah bisa dikatakan pariwisata berbasis agraris, kita menjual Desa Wisata Stanggor misalnya, itu juga termasuk Agraris, jadi  yang kita kembangkan sebenarnya adalah wisata berbasis agraris,” tegasnya.

Kita juga harus pikirkan jangan sampai desa desa yang kita kembangkan ini dimanipulatif ada desain marketingnya tetapi itu tidak bisa bertahan lama. Kita mendesain mengembangkan selama 5 tahun atau 10 tahun kemudian rontok, bisa gak kita bertahan seperti Kabupaten Badung di Bali,”katanya. Doktor Asrin memcontohkan misalnya tamu dari Arab datang ke Lombok tidak mungkin mau melihat alam dengan tanah yang gersang, tentu mereka mau melihat alam hijau yang subur atau sebaliknya jika kita berwisata ke Arab kita ingin melihat padang pasir atau gurun Sahara ataupun musik padang pasir.  Lombok Tengah brand kita harus jelas dan tawaran tawaran pariwisata kita harus bersifat  mendidik jangan sampai kita merekonstruksi, memframing dari masyarakat pedesaan kembali menjadi masyarakat tradisional, kita jadi primitif didesain untuk konsumtif. Sementara persaingan pariwisata sekarang ini semakin tinggi akibat adanya informasi dan tekhnologi. jadi saya melihat dari aspek seperti itu jangan sampai 5 atau 10 tahun kedepan pariwisata kita itu menjadi rontok. Oleh karena itu kalau ingin pariwisata yang berkelanjutan kita harus menyiapkan SDM dan master plan yang matang dan terarah.

Sementara dari segi kajian Budaya menurut Lalu Prima Wira Putra satu hal wajib prinsip prinsip dasar yang kita kembangkan dalam pembangunan, “siapa atau institusi apa yang wajib melindungi hak hak masyarakat kita didalam begitu besarnya gelombang kapitalisme seperti gelombang yang akan menerjang seperti tsunami yang datang ke daerah. Kita tidak khawatir ekonomi kita akan berkembang, angka angka itu akan naik tapi yang kita khawatirkan nanti diposisi mana masyarakat kita nanti pada saat itu, apalagi kita tidak membentengi masyarakat dengan aturan aturan yang membuat mereka terlindungi,”kata Prima.
Sejenak kita ingat pesan Sukarno kita harus berdaulat secara politik,mandiri secara ekonomi dan bermartabat secara budaya. Semangat ini sekarang ada dimana tempatnya  dan apa yang sudah kita lakukan untuk membentengi diri dari rencana rencana orang luar yang datang kedaerah kita untuk mendesain harapan dan masa depan kita lalu kita hanya menjadi folower tidak sempat membuat rencana untuk diri sendiri dan skenario terhadap masa depan bangsa, kita membutuhkan sebuah kesadaran budaya

 seperti ungkapan lokal” ndak tejari penyakap lek gumi mesak” dan kira harus bisa mengikuti perkembangan ini step by step supaya kita tidak terkesan seperti istilah “ Kelembang tokol “ artinya sudah ada sesuatu baru kita ribut, baru kita protes antar sesama karena kita tidak mendesain tata cara kehidupan kita berdasar kepada budaya dan kearifan lokal, semua serba by desain  by order dalam arti kata kita repot melayani kepentingan orang lain namun tidak memprioritaskan kepentingan sendiri.
Setelah para narasumber memberikan kajian materi diskusi, para peserta tamu undangan dipandu  untuk melemparkan pertanyaan secara umum terkait dengan kebijakan pemerintah yang dianggap masih saja belum berpihak kepada rakyat sembari memberikan masukan ide maupun gagasan  positif kepada Pemkab Loteng, berikut persoalan persoalan yang dihadapi masyarakat namun dinilai pemda tidak peka dengan fakta sosial kemiskinan berikut sisi sisi yang kurang menguntungkan bagi masyarakat Lombok Tengah secara umum. Satu persatu pertanyaan dari peserta dijawab oleh Sekda berikut pemaparan solusi yang ditawarkan hingga satu persatu catatan pertanyaan dari para peserta dihimpun Sekda guna dijadikan kerangka pemikiran bersama untuk memberikan solusi yang tepat. Namun dari para peserta meminta kepada Sekda agar hasil diskusi ini tetap ditindaklanjuti agar diberikan jalan keluar jangan sampai aspirasi diserap namun tidak ada solusi. (*)

Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Posting Komentar

Tes Iklan
Tes Iklan

Ads Single Post 4