Headline
NURANIRAKYAT NEWS LOMBOK TENGAH-NTB. Berawal dari selembar surat Edaran Gubernur NTB Zulkifliemansyah, membuat masyarakat Lombok Tengah meradang. Bagaimana tidak, kegaduhan yang terjadi di Lombok Tengah akibat dikeluarkannya Surat Edaran No : 550/375/Dishub/2019/ atau SK Menteri Perhubungan No: 1421 untuk pergantian nama Bandara Internasional Lombok/ LIA atau Lombok International Airport menjadi Bandara ZAM, yang jelas jelas ditolak mentah mentah oleh masyarakat hingga Bupati Lombok Tengah. Mereka melakukan aksi protes dan bermuara hingga terjadi demo menolak perubahan nama Bandara Internasional Lombok menjadi Bandara Internasional Zainudin Abdul Majid yang merupakan pahlawan nasional dari Lombok NTB.
Diketahui kejadian yang sama pada tahun 2018 pernah terjadi juga ketika pada masa Gubernur NTB sebelumnya Zainul Mazdi atau dikenal dengan nama TGB berkuasa, ia pernah mencoba melakukan pergantian nama BIL. Namun seketika itu mendapat reaksi keras hingga perlawanan dengan aksi demo di Lingkar Bandara oleh masyarakat Lombok Tengah, mereka menolak dengan membubuhkan tanda tangan bercelupkan
darah diatas kain putih, pertanda mereka
tidak rela atau tidak ikhlas dengan rencana tersebut.
Penolakan yang kedua terjadi lagi pada hari Senin (18/11) ribuan masyarakat Lombok Tengah melakukan aksi demo menolak pergantian nama Bandara Internasional Lombok menjadi Bandara ZAM atau Zainudin Abdul Majid. Aksi tersebut dipimpin oleh LSM GERAM ( Gerakan Rakyat Menolak ) Perubahan Nama BIL/ LIA dengan koordinator umum Lalu Hizzi dan kawan kawan. Mereka beralasan pergantian nama Bandara itu tidak mendasar dan sangat melukai perasaan masyarakat Lombok Tengah. Tidak berhenti disitu Bupati Lombok Tengah HM. Suhaili FT menolak keras pergantian nama Bandara tersebut karena nama BIL adalah harga mati yang tidak bisa ditawar tawar lagi.
Dalam aksi orasi yang dilakukan secara bergiliran mulai dari kordum GERAM Lalu Hizzi, Bahaidin Obok tokoh PMII Lombok Tengah, Slamet Riadi atau Rebe Bonder, Apriadi Abdi Negara, rekan rekan aktivis lainnya hingga perwakilan perangkat desa Lombok Tengah, agitasi mereka menarik perhatian ribuan masa, mereka berteriak lantang sekeras kerasnya berseru menolak segala bentuk pemaksaan pada pergantian nama BIL/LIA menjadi Bandara ZAM. Bandara Internasional Lombok adalah harga mati yang tidak boleh ditawar tawar lagi. Pada saat masa mau merangsek
menembus barisan ratusan personil polisi untuk menemui Ketua DPRD dan semua Anggotanya, Azan dari Masjid Berkumandang menunjukkan waktu untuk sholat Zohor, lalu ribuan pendemo mengurungkan niatnya membobol barikade ratusan aparat polisi yang sudah siap siaga, mereka berhenti untuk melakukan sholat zohor di Masjid Islamic Center.
Setelah selesai melaksanakan kewajiban sholat Zohor mereka diterima bertemu dengan ketua DPRD NTB Hj. Bq. Isvie Rupaeda beserta anggota DPRD NTB Dapil Lombok Tengah lainnya seperti Ahmad Fuaddi. HL
Sudiartawan. L. Satriawandi ST. HL. Pelita Putra. L. Hadrian Irfani dan juga Anggota DPRD lainnya. Menurut Lalu Hizzi hasil pembicaraan dengan DPRD Provinsi. NTB, mereka akan membentuk tim pansus untuk menyelesaikan permasalahan perubahan nama bandara. Dalam pelaksanaan Pansus nantinya ketua DPRD Propinsi NTB menjamin tidak akan terjadi Votting. Dalam prosedur pembatalan perubahan nama bandara nantinya DPRD Prov. NTB akan ke Jakarta untuk menemui Menteri Perhubungan. Oleh karena itu semua ini harus kita kawal agar berjalan seperti yang kita harapkan bahwa nama BIL adalah harga mati,"ucapnya lantang. (NRNews29)
Gubernur Dinilai Bikin Gaduh, Ribuan Masa Tolak Pergantian Nama BIL ke DPRD NTB
![]() |
| Photo : Ribuan Masa gedor DPRD propinsi NTB Tolak Pergantian nama BIL/LIA menjadi BIZAM |
NURANIRAKYAT NEWS LOMBOK TENGAH-NTB. Berawal dari selembar surat Edaran Gubernur NTB Zulkifliemansyah, membuat masyarakat Lombok Tengah meradang. Bagaimana tidak, kegaduhan yang terjadi di Lombok Tengah akibat dikeluarkannya Surat Edaran No : 550/375/Dishub/2019/ atau SK Menteri Perhubungan No: 1421 untuk pergantian nama Bandara Internasional Lombok/ LIA atau Lombok International Airport menjadi Bandara ZAM, yang jelas jelas ditolak mentah mentah oleh masyarakat hingga Bupati Lombok Tengah. Mereka melakukan aksi protes dan bermuara hingga terjadi demo menolak perubahan nama Bandara Internasional Lombok menjadi Bandara Internasional Zainudin Abdul Majid yang merupakan pahlawan nasional dari Lombok NTB.
Diketahui kejadian yang sama pada tahun 2018 pernah terjadi juga ketika pada masa Gubernur NTB sebelumnya Zainul Mazdi atau dikenal dengan nama TGB berkuasa, ia pernah mencoba melakukan pergantian nama BIL. Namun seketika itu mendapat reaksi keras hingga perlawanan dengan aksi demo di Lingkar Bandara oleh masyarakat Lombok Tengah, mereka menolak dengan membubuhkan tanda tangan bercelupkan
darah diatas kain putih, pertanda mereka
Penolakan yang kedua terjadi lagi pada hari Senin (18/11) ribuan masyarakat Lombok Tengah melakukan aksi demo menolak pergantian nama Bandara Internasional Lombok menjadi Bandara ZAM atau Zainudin Abdul Majid. Aksi tersebut dipimpin oleh LSM GERAM ( Gerakan Rakyat Menolak ) Perubahan Nama BIL/ LIA dengan koordinator umum Lalu Hizzi dan kawan kawan. Mereka beralasan pergantian nama Bandara itu tidak mendasar dan sangat melukai perasaan masyarakat Lombok Tengah. Tidak berhenti disitu Bupati Lombok Tengah HM. Suhaili FT menolak keras pergantian nama Bandara tersebut karena nama BIL adalah harga mati yang tidak bisa ditawar tawar lagi.
Dalam aksi orasi yang dilakukan secara bergiliran mulai dari kordum GERAM Lalu Hizzi, Bahaidin Obok tokoh PMII Lombok Tengah, Slamet Riadi atau Rebe Bonder, Apriadi Abdi Negara, rekan rekan aktivis lainnya hingga perwakilan perangkat desa Lombok Tengah, agitasi mereka menarik perhatian ribuan masa, mereka berteriak lantang sekeras kerasnya berseru menolak segala bentuk pemaksaan pada pergantian nama BIL/LIA menjadi Bandara ZAM. Bandara Internasional Lombok adalah harga mati yang tidak boleh ditawar tawar lagi. Pada saat masa mau merangsek
menembus barisan ratusan personil polisi untuk menemui Ketua DPRD dan semua Anggotanya, Azan dari Masjid Berkumandang menunjukkan waktu untuk sholat Zohor, lalu ribuan pendemo mengurungkan niatnya membobol barikade ratusan aparat polisi yang sudah siap siaga, mereka berhenti untuk melakukan sholat zohor di Masjid Islamic Center.
Setelah selesai melaksanakan kewajiban sholat Zohor mereka diterima bertemu dengan ketua DPRD NTB Hj. Bq. Isvie Rupaeda beserta anggota DPRD NTB Dapil Lombok Tengah lainnya seperti Ahmad Fuaddi. HL
Sudiartawan. L. Satriawandi ST. HL. Pelita Putra. L. Hadrian Irfani dan juga Anggota DPRD lainnya. Menurut Lalu Hizzi hasil pembicaraan dengan DPRD Provinsi. NTB, mereka akan membentuk tim pansus untuk menyelesaikan permasalahan perubahan nama bandara. Dalam pelaksanaan Pansus nantinya ketua DPRD Propinsi NTB menjamin tidak akan terjadi Votting. Dalam prosedur pembatalan perubahan nama bandara nantinya DPRD Prov. NTB akan ke Jakarta untuk menemui Menteri Perhubungan. Oleh karena itu semua ini harus kita kawal agar berjalan seperti yang kita harapkan bahwa nama BIL adalah harga mati,"ucapnya lantang. (NRNews29)



Posting Komentar